#KopiSenja

Adalah sebuah tagar lain yang saya anut harian. #KopiSenja secara gamblang dimengerti bahwa ini hanya dua buah kata "kopi" dan "senja". Dimana #KopiSenja awal mulanya dimulai saat menjelang petang, matahari mulai meredup merah semburat jingga. Hingga lepas malam, tergantung tempat dan situasi.

Saya sadari #KopiSenja adalah kopi terenak yang saya nikmati. Disaat melepas penat-lelah setelah bekerja harian;10-16; maka #KopiSenja saya mulai diangka 17.

Namun, semakin lama saya sadari #KopiSenja bukanlah hanya pelepas penat dan menyaksikan karya agung Senja. Hal ini mulai berkembang, #KopiSenja berjalan menjadi sebuah kondisi. Selepas kesibukan harian, menyempatkan waktu untuk menikmati kopi dan berbincang santai. #KopiSenja tidak lagi menjadi obyek individu. Bukan hanya pada kopi yg diseduh kala senja, namun keberadaan peminum dan lingkungan.

Tidaklah harus kopi berjamaah. Karena kopi adalah selera personal. Tapi dimana disitu ada secangkir kopi saja, percakapan berlangsung, dan interaksi dimulai, disitu ada #KopiSenja. Konsekuensinya rentang waktu bertambah disaat #KopiSenja. Disaat senja memudar dan bulan sudah nampak, #KopiSenja masih bisa dinikmati.

#KopiSenja kini adalah pelepas penat setelah beraktifitas seharian, menikmati karya tunggal Senja, bersama orang-orang disekitar; terutama yang terkasih; berbagi.

Nb: ketika saya menulis ini, saya sedang bersama angan: bersantai di perabot kayu, di sebuah tempat dimana senja mendominasi, melepas penat seharian. Di hadapan ada secangkir kopi, berteman dengan secangkir coklat hangat milik seorang perempuan yang kiranya akan menghabiskan umur berdua. Percakapan ringan tentang harinya; keluh-kesah yang menderu; obrolan santai untuk menyusun masa depan.

This entry was posted on 26.3.14 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply