Tidak bisa banyak menyusun kata,
karena diri terkadang masih belum bisa memilah antara:
Ikhlas dan menyerah pada keadaan;
Diri yang masih menyimpan dendam diatas kata ikhlas.
Masih bersahabat dengan kata merelakan
namun kita sudah menyimpan senyum :)
Ketika engkau sanggup katakan 'aku bahagia untukmu'
dengan tanpa embel2 tawa sinis atau tangis kejer dibalik pertemuan.
Menyongsong ikhlas tidak semudah menjetikkan jari,
Atau tidak semudah berpaling mencari pelampiasan,
Yg akhirnya akan kau PHP, Brotherzone, dan Friendzone-kan.
Ini menuntut kegilaan yang mengakar,
yang apabila tak bisa kau cabut perlahan akar itu,
maka selamat datang di "dunia baru"mu.
Jikalau akar itu tercabut,
berkacalah, berkacak pingganglah, pakailah pakaian terbaikmu,
Katakan pada kaca,
"Inilah yang terberkati!
Lihat atasnya bagaimana dia tumbuh dewasa!
Semakin kuat gengamannya seperti harimau!
Semakin tajam penglihatannya bak rajawali!
Semakin besar pribadinya melawan dunia!"
Serukan pula:
"Iya! Aku gila! Aku gila! Gila!
Namun hanya aku yang mampu menghadirkan senyum menggantikan rasa dendam!"
Ah, tau apa aku mengkuliahi kalian.
Tapi sudahkan kalian menyimpan senyum atas dendam?
Bersiap dengan ikhlas?
:)
Persepsi
This entry was posted on 24.9.12 and is filed under LANTUNAN KATA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.