unknown post

"Hae"

Sapa seorang kerdil kepada bongkahan bulan perak
yang ia rekatkan pada langit malamnya.
Kelambu kabut kelam ia ambil pula untuk menemani sang perak,
disusunnya acak disekitaran cahaya
Sedikit embun pagi pun disisakan untuk diurapkan
muka sang perak agar tak lesu rautnya
Dua untai mawar dikalungkan pada daun telinganya.

"Cantik kau malam ini. Janganlah pergi terburu.
Temani aku."

Tersipu Perak dalam heningnya kata.

"Ya! ronakan terus pipimu, ronakan terus, merona seperti paparan senja di bukit Mandau.
Senja yang berkalung emas langit biru, tergradasi dengan indahnya."

Bersembunyilah Perak pada rakitan awan hitam.

"Oh Mata Bulan Perak,
Janganlah kau ragu untuk menari disela kelam.
Janganlah kau berhenti pancarkan sinar.
Sebab aku tak akan menjauhkanmu dari tahta itu."

"Kodrat Pungguk yang tidak pernah bisa aku gagahi,
Aku yang hanya bisa merindukan, menatapmu.
Walau aku pula yang sebenarnya menghadirkanmu,
Untuk aku.."

"Menarilah Perak, memerah padamlah."

This entry was posted on 19.8.12 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply