Diriku memulai mengkirikan kata rindu.
Sebuah kata yang hidup dari rangkuman perjuangan.
Kata yang berkembang atas dasar masalalu yang hingar bingar.
Kata yang kini mulai mematikan karena semua itu semu belaka.
Rasa yang kudapati kini luruh berkecamuk penuh kepalsuan.
Karena ada andil didalamnya sebuah pengharapan kembali.
Semua menghadiri rekapitulasi syarat merindu.
Golongan berbalas
Golongan sampai ditempat
Golongan berharap
Golongan naif akan datangnya rindu
Golongan bangsat yang menampik kata rindu karena itu yang akan mencelakakan mereka
Dan golongan-golongan lain yang mereka kira mereka ekslusif.
Oh nikmatnya merindu tanpa sambatan dan cari muka perindu.
Biarlah merindu itu melanglang bebas,
seperti insan yang melihat merasa rindu itu milik mereka.
Tidaklah munafik, semua yang dikeluarkan mustinya ada pemasukannya.
Bukankah kalau begitu kita tidak menyelipkan kata ikhlas dalam merindu?
Kita juga melupakan kata sabar dalam rentetan rindu?
Diriku mulai terbebani dengan kata rindu bersyarat, dimana majelis rindu menyusunnya berkala.
Oh Penguasa, ikhlaskanlah merinduku.
#sambatan
This entry was posted on 21.8.12 and is filed under LANTUNAN KATA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.